Program transplantasi karang di Pulau Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, menjadi salah satu upaya nyata dalam memulihkan ekosistem laut yang mengalami tekanan dalam beberapa tahun terakhir. Kegiatan ini berlangsung dalam rentang waktu 2023 hingga 2025 dan melibatkan berbagai pihak, mulai dari organisasi lingkungan, sektor swasta, hingga masyarakat setempat yang memiliki ketergantungan langsung terhadap kelestarian laut.
Inisiasi program ini telah dimulai sejak April 2022 oleh YEKHALI bersama BRI Peduli dan Maratua Peduli Lingkungan (MPL), pada tahap ini, dilakukan koordinasi dan diskusi untuk mengidentifikasi masalah serta menghimpun masukan dari berbagai pemangku kepentingan, tahap ini bertujuan untuk menyusun konsep dan bentuk program, program mulai diimplementasikan pada Juni 2023 melalui pengukuran dan pengumpulan data awal (baseline study) di tiga Lokasi transplantasi, dari hasil studi tersebut, ditentukan satu Lokasi paling sesuai untuk kemudian dilanjutkan pada tahap pengurusan perizinan persetujuan pemanfaatan ruang laut KKPRL. Setelah seluruh tahapan administrasi dan perencanaan diselesaikan, Desember 2023, rangkaian kegiatan transplantasi karang dimulai dari peningkatan kapasitas anggota MPL berupa pengenalan aspek biologi karang, faktor-fakto yang mempengaruhi pertumbuhan karang, kriteria pemilihan Lokasi transplantasi termasuk metode transplantasi yang digunakan. Hasil pembelajaran ini, YEKHALI, MPL, BRI Peduli serta masyarakat di Pulau Maratua melakukan transplantasi karang di Lokasi telah ditetapkan.
Metode yang digunakan dalam program ini adalah metode MARS atau Mars Assisted Reef Restoration System yang dikenal dengan bentuk struktur menyerupai jaring laba-laba atau web spider. Metode ini dinilai efektif karena mampu memberikan media yang stabil bagi fragmen karang untuk tumbuh. Sebanyak 630 Fragment karang telah di transplantasi pada 35 media reef star, Adapun jenis karang yang ditransplantasi adalah Acropora Formosa, Acropora pulchra, dan Acropora vermiculata. Fase awal setelah peletakan reef star ke Lokasi restorasi, dilakukan perawatan sebanyak enam kali dalam periode dua bulan. Perawatan mencakup pembersihan media reef star dan fragment karang dari serangan alga, sediment/pasir,dan siput laut (Drupella sp), fase selanjutnya setelah fragment karang mulai tumbuh dan melekat pada media, maka dilakukan pengukuran pertumbuhan setiap bulannya selam periode 20 bulan. Hasil pengukuran menunjukkan rata-rata pertumbuhan karang setiap bulannya mencapai 2,1 sentimeter dan diameter sekitar 0,3 sentimeter.
Hingga akhir periode pengamatan pada Desember 2025, hasil yang diperoleh menunjukkan perkembangan yang cukup positif. Karang yang ditransplantasikan mengalami pertumbuhan dan mulai beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Berdasarkan hasil survei ekologi, jenias karang pada Lokasi restorasi telah bertambah dari tiga jenis menjadi sepuluh jenis. Artinya, terdapat tujuh jenis karang tumbuh secara alami (Coral Recruitment), yaitu: Porites latestilata, Acropora millepora, Acropora clathrate, Seliatopora callindrum, Pocillopora kelleheri, Gorgonian sp, dan Nepthea sp. Selain kondisi karang yang mengalami perbaikan, keanekaragaman jenis ikan juga mengalami peningkatan, pada tahun 2023 saat dilakukan base line studi, ditemukan 7 family, 10 genus, 12 spesies, dengan total individu 62 ikan karang menjadi 16 family, 31 genus, 44 spesies dan 985 individu ikan karang pada survey akhir Desember 2025.
Keberhasilan program ini dipengaruhi oleh beberapa faktor penting. Salah satunya adalah kesesuaian lokasi transplantasi. Kondisi lingkungan seperti kejernihan air, suhu, salinitas, arus, serta kedalaman yang tepat menjadi faktor utama dalam mendukung pertumbuhan karang. Selain itu, rendahnya tekanan dari aktivitas manusia seperti penggunaan jangkar dan alat tangkap yang merusak juga turut berperan dalam meningkatkan tingkat keberhasilan.
Faktor lain yang menentukan adalah metode dan kualitas teknis pelaksanaan. Pemilihan metode yang tepat, penggunaan jenis karang yang adaptif terhadap kondisi lokal, serta teknik pemasangan yang benar sangat berpengaruh terhadap tingkat kelangsungan hidup karang. Metode spider yang digunakan dalam program ini terbukti mampu memberikan hasil yang cukup optimal dalam mendukung pertumbuhan karang.
Di samping itu, keterlibatan masyarakat lokal menjadi aspek penting dalam menjaga keberlanjutan program. Nelayan dan pelaku wisata dilibatkan dalam kegiatan perawatan, pemantauan, serta pengawasan area transplantasi. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan efektivitas program, tetapi juga menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga ekosistem laut sebagai sumber kehidupan. Secara keseluruhan, program terumbu karang di Pulau Maratua menunjukkan bahwa kolaborasi antara berbagai pihak dapat menghasilkan dampak positif bagi lingkungan. Dengan dukungan metode yang tepat, pemantauan yang konsisten, serta partisipasi aktif masyarakat, upaya pemulihan ekosistem laut dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan maupun ekonomi lokal.


